16
Jan
09

ETIKA SUBSISTEN ORANG-ORANG PINGGIRAN

Rosichin M.

Masyarakat desa tradisional mendapat desakan kuat modernisme dan industrialisasi yang terus merambah. Mereka sebagai orang-orang pinggiran tak mau terpuruk dan jatuh ke titik nol kehidupan. Sejalan dengan prinsip “dahulukan selamat” yang ditawarkan Roumasser, mereka mencipta ruang-ruang sendiri sebagai strategi melangsungkan hidupnya, sekaligus sebagai respon terhadapsistem yang ada yang kurang membela atau memberi angin segar kepada orang-orang pinggiran. Ruang profesi ojek menjadi ruang tumpuan yang diisi para suami, dan ruang lain, ruang sambilan yang menjadi penopangnya diisi para istri tapi tidak sampai menjadi ruang pelacur jalanan.

Tulisan hasil riset di atas terbit bersama tulisan hasil riset teman-teman, di antaranya tentang agama lokal, kearifan lokal, dan ritual. Untuk mengetahui lebih jauh bisa dibaca di buku yang disunting Direktur Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Irwan Abdullah et.al. Judul buku “Agama dan Kearifan Lokal dalam Tantangan Global”. Editor: Iwan Abdullah et.al. Penerbit: Sekolah Pascasarjana UGM dan Pustaka Pelajar Yogyakarta. 2008. p. 457.


0 Tanggapan ke “ETIKA SUBSISTEN ORANG-ORANG PINGGIRAN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.