<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>DenRos&#039;s</title>
	<atom:link href="http://rosichin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rosichin.wordpress.com</link>
	<description>Blog Warna Warni</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Feb 2011 12:09:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rosichin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/7633f2455260d199620ac9e7587adbe3?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>DenRos&#039;s</title>
		<link>http://rosichin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rosichin.wordpress.com/osd.xml" title="DenRos&#039;s" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rosichin.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>HEGEMONI KAPITALISME</title>
		<link>http://rosichin.wordpress.com/2010/01/31/hegemoni-kapitalisme/</link>
		<comments>http://rosichin.wordpress.com/2010/01/31/hegemoni-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 03:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosichin mansur</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosichin.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[RosiChin M. Wajah kapitalisme bukan saja tampak di sudut-sudut kota, di sudut-sudut desa, di sudut-sudut kampus, di sudut-sudut permainan, sampai di sudut-sudut meja pun telah tampak. Wajah itu bertopeng industrialisasi yang terus mendesak wajah pertanian tradisional sehingga wajahnya mengecil dan napasnya terengah-engah tak bisa melawannya. Dominasi kapitalisme di ranah ekonomi terus bergolak, kadang tak lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=158&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>RosiChin M.</em></strong></p>
<p>Wajah kapitalisme bukan saja tampak di sudut-sudut kota, di sudut-sudut desa, di sudut-sudut kampus, di sudut-sudut permainan, sampai di sudut-sudut meja pun telah tampak. Wajah itu bertopeng industrialisasi yang terus mendesak wajah pertanian tradisional sehingga wajahnya mengecil dan napasnya terengah-engah tak bisa melawannya. Dominasi kapitalisme di ranah ekonomi terus bergolak, kadang tak lagi mengenal belas kasih, seringkali yang berkapital besar menusuk jantung yang berkapital kecil dan tak sedikit yang terkapar. Namun di lorong budaya, wajah dominasi kapitalisme yang bengis menindas berubah wajah bertopeng manis, demokratis dan tak terasa memaksa atas kehadirannya, itulah wajah hegemoni. Hegemoni yang diusung Gramsci terus melanda di tengah lapang kehidupan, dominasi pun menyingkir pelan. Kapital menjadi roh hegemoni yang menggerakkan aneka ragam relasi-relasi di tengah lapang kehidupan. Kapital di sini bukan saja harta, melainkan bisa tahta, wanita (kecantikan), kharisma, ilmu, adat istiadat, dan seambrek bendera ranah yang berkibar di alun-alun kehidupan.<br />
<span id="more-158"></span><br />
Upacara keagamaan, upacara adat, upacara perkawinan, upacara melarung, seremoni sunatan dan seremoni lain sejenis sebagai amsal yang menjadi badan atau wadah roh hegemoni. Kehadirannya disambut gembira tiada memaksa, dan seremoni berjalan lancar tak tampak hadirnya hegemoni lantaran lebih melihat kehadiran wajah ideologi yang lebih utama dan menyemangatinya. Kehidupan manusia terasa sulit membuang warna warni dan kerlap kerlip kapital sebagai roh hegemoni, dan menyambutnya dengan senyum manis.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosichin.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosichin.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosichin.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosichin.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosichin.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosichin.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosichin.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosichin.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosichin.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosichin.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosichin.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosichin.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosichin.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosichin.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=158&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosichin.wordpress.com/2010/01/31/hegemoni-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc5b56b53846dd95cdb7bc1a779c0d7d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosichin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KAMPUS SEBUAH PUSAT KEBUDAYAAN</title>
		<link>http://rosichin.wordpress.com/2009/06/10/kampus-sebuah-pusat-kebudayaan/</link>
		<comments>http://rosichin.wordpress.com/2009/06/10/kampus-sebuah-pusat-kebudayaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 13:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosichin mansur</dc:creator>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosichin.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Rosichin M. Kampus bukan hanya merupakan wahana dan sarana proses belajar mengajar, pewarisan ilmu, pendewasaan, dan pemberdayaan manusia, namun lebih dari itu kampus menjadi sebuah pusat kebudayaan di antara pusat kebudayaan yang ada dalam masyarakat. Kebudayaan memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat (manusia). Tanpa kebudayaan manusia berada di persimpangan jalan, ada dalam kebingungan dan penderitaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=96&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Rosichin M.</strong></p>
<p><em>Kampus bukan hanya merupakan wahana dan sarana proses belajar mengajar, pewarisan ilmu, pendewasaan, dan pemberdayaan manusia, namun lebih dari itu kampus menjadi sebuah pusat kebudayaan di antara pusat kebudayaan yang ada dalam masyarakat. Kebudayaan memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat (manusia). Tanpa kebudayaan manusia berada di persimpangan jalan, ada dalam kebingungan dan penderitaan dan atau hidup dalam kematian, tak ubahnya sebuah patung yang  tak pernah berkata dan tertawa serta terkunci bibirnya.</em></p>
<p><span id="more-96"></span><br />
PENDAHULU</p>
<p>Manusia menjadi pencipta sekaligus pengguna dan pelestari kebudayaan.  Manusia sebagai pencipta kebudayaan mencipta melalui budi dan dayanya, sebagai pengguna manusia menggunakan kebudayaan menjadi piranti pemenuhan kebutuhan, dan pemecah problema yang dihadapi dalam kehidupan karena hidup manusia tidak dapat lepas dari kebutuhan dan  permasalahan. Kebutuhan manusia yang diharapkan segera terpenuhi misalnya kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Manusia sebagai pelestari kebudayaan manusia yang menjadi pencipta dan pengguna dituntut untuk terus membina, menjaga dan  menumbuhkembangkan kebudayaan sepanjang zaman. Itulah kedudukan berharga bagi manusia dalam bidang kebudayaan.</p>
<p>Kedudukan berharga tersebut belum dipahami oleh kebanyakan manusia, begitu juga mengenai arti pentingnya kebudayaan, wujud kebudayaan, dan kampus merupakan salah satu pusat kebudayaan belum dipahami sebagian besar manusia,  padahal bila dicermati arti pentingnya kebudayaan telah teraktualisasi melalui rencana masa depan manusia yang telah lama ada dalam benaknya, begitu juga wujud kebbudayaan telah berceceran dibanyak jalan kehidupan. Kampus pun masih diartikan sebagai suatu lembaga pendidikan tinggi yang merupakan wahana dan sarana belajar mengajar, pewarisan ilmu,  pendewasaan dan pemberdayaan manusia (masyarakatnya) belum dipahami salah satu pusat kebudayaan, padahal kampus salah satu pusat yang telah melahirkan kompleksitas ide/gagasan, aktivitas prilaku, dan nilai-nilai insani yang bersumber dari budinya, yang diramu dengan ilmu pengetahuan dan pengalamannya. Untuk itulah penulis ingin membantu membuka pintu kesadaran dan pemahaman kepada pembaca khususnya akan arti pentingnya kebudayaan, wujud kebudayaan dan kampus merupakan salah satu pusat kebudayaan yang melahirkan susunan nilai-nilai insani. Pada gilirannya susunan nilai-nilai insani tersebut menjadi sarana dalam memenuhi kebutuhan yang selalu membingkai manusia. Di samping nilai-nilai insani manusia dapat memanusiakan dirinya, dan memanusiakan manusia serta menjadikan manusia sebagai insan yang berbudaya dan beradab.</p>
<p>Manusia yang berbudaya dan beradab inilah yang akan dapat membawa   manusia mengerti akan dirinya, masyarakatnya, Tuhannya, mengerti akan dunianya yang terus menjadi, serta dapat memilih dan meggunakan kebudayaan sebagai strategi yang efektif dalam mengatasi atau menjawab permasalahan yang dihadapi, termasuk permasalahan pokok yang diangkat dalam tulisan ini yakni, (1) apakah kampus merupakan sebuah pusat kebudayaan, dan (2) apa jenis kebudayaan kampus.</p>
<p>ARTI DAN WUJUD  KEBUDAYAAN</p>
<p>Kebudayaan lahir dan hidup bersama masyarakat manusia, masyarakat menjadi wadahnya dan manusia yang melahirkannya.  Kampus merupakan bagian dari kehidupan masyarakat luas yang memiliki kekhasan dalam budayanya, dan mengalami tumbuhkembang seperti halnya masyarakat yang  secara fitrahnya berkembang menuju pada kemajuan dan kebaikan.</p>
<p>Kampus pada hakikatnya bukan saja wahana dan sarana proses belajar mengajar, menimba, mengaji dan mewariskan ilmu, mendewasakan dan member-dayakan anggota masyarakatnya, namun lebih dari itu kampus menjadi tempat dan  media di mana  anggota masyarakatnya  memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dan menumbuh-kembangkan budinya atau daya cipta, rasa, dan karsanya di dalam dan di luar garis naturalnya, yang dapat menjadi modal dasar dan piranti dalam mengarungi bahtera kehidupan yang penuh dengan rintangan, tantangan dan segudang permasalahan yang terus membingkai kehidupan.</p>
<p>Kampus dalam mendewasakan dan memberdayakan budi dan atau potensi anggota masyarakatnya tidak dapat dilepaskan dari berbagai kompleksitas aktifitas yang harus dilakukan dengan mengacu pada dasar, norma, aturan dan adat kebiasaan yang berlaku. Aneka karya pikiran, hasil aktifitas manusia yang berdasarkan budinya itu dinamakan kebudayaan. Sebagaimana dituturkan Kroeber dan Clyde Kluckhon dalam Notowidagdo (1997:25), kebudayaan adalah keseluruhan hasil perbuatan manusia yang bersumber dari kemauan, pikiran dan perasaannya. Bakker (1994: 22) mengemukakan kebudayaan adalah penciptaan, penertiban, dan pengolahan nilai-nilai insani. Gazalba (!973:59) berpendapat,  kebudayaan ialah cara berpikir dan cara merasa, yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu. Berkiblat dari pemikiran di atas dapat diambil simpulan bahwa kebudayaan (dalam arti luas) adalah hasil  budi manusia yang bersumber dari cipta, rasa dan karsanya  dalam suatu ruang dan waktu;   kebudayaan  (dalam arti sempit)  adalah hasil budi manusia yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu. Dengan demikian kebudayaan pada dasarnya sangat  kompleks   karena bukan hanya terbatas pada hasil budi sekelompok sosial manusia yang menempati ruang/tempat tertentu dan atau hasil karya seni pisik/bendawi yang hanya dapat diindera seperti:  seni pahat, lukisan, tarian, pakaian atau bangunan khas (suatu daerah), tetapi lebih dari itu kompleks ide/gagasan, adat kebiasaan, norma, kepercayaan, dan nilai-nilai insani yang  lain dalam kehidupan masuk dalam lingkaran kebudayaan. Sutan Takdir Alisyahbana (Gazalba, 1973: 61) mengatakan: kebudayaan adalah konfigurasi nilai atau susunan nilai: nilai ilmu, ekonomi, solidaritas, agama, seni, dan kekuasaan. Nilai-nilai insani yang ada dalam kehidupan itu memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola/gaya/cara hidup manusia, dengan kata lain pola rasa, pola pikir dan cara hidup manusia akan sangat terpengaruh oleh nilai-nilai yang ada dan tumbuhkembang dalam masyarakat. Namun tidak dapat dipersalahkan bila ada orang yang mengartikan kebudayaan sebatas hasil karya (seni) manusia sebagai kelompok masyarakat tertentu  yang betwujud lahiriah/ eksplisit, kebudyaan di sini diletakkan pada definisi yang sempit bukan kebudayaan diletakkan dalam arti yang luas.</p>
<p>Kebudayaan yang dihasilkan sekelompok masyarakat yang  secara garis besar berujud kompleks gagasan, norma, adat kebiasaan, kepecayaan, dan  nilai insani yang lain digolongkan masuk kebudyaaan rohaniah/implisit, dan wujud kompleks prilaku/perbuatan dan benda seni pisik karya manusia digolongkan masuk dalam kebudayaan lahiriah/ekplisit.  Nasution (1995: 62)  menuturkan: Wujud kebudayaan ada 2 macam: (1) kebudayaan ekplisit, dan (2) kebudayaan implisit.  Kebudayaan rohani/implisit bersifat abstrak karena berpusat di otak, tidak dapat diraba dan diamati indera manusia, dan kebudayaan lahiriah/eksplisit bersifat konkrit karena bisa diamati dan diraba manusia.  Kedua wujud kebudayaan tersebut memiliki saling keterkaitan dan atau  ketergantungan satu dengan yang lain. Kedua wujud kebudayaan itu pun selalu berkembang dalam masyarakat yang mana masyarakat sendiri juga menjadi produsen dan konsumen kebudayaan.</p>
<p>UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN</p>
<p>Kebudayaan yang lahir dan tumbuh dalam kehidupan masyarakat manusia tidak dapat lepas dari unsur-unsur kebudayaan yang melahirkannya. Malinowski dalam Munandar (1998:13)  menuturkan, unsur-unsur besar kebudayaan yang bersifat uni-versal sebagai berikut: (1) bahasa, (2) sistem teknologi, (3) sistem mata pencaharian,    (4) organisasi sosia,. (5) sistem pengetahuan, (6) kesenian,  (7) Religi. Bahasa merupakan alat komunikasi antarsubyek  yang dapat mempermudah dan memperingan dalam kehidupan manusia. Bahasa pun merupakan lambang atau simbol yang dapat menjadi cermin kognisi dan afeksi manusia.  Ilmu pengetahuan diartikan aktifitas pengkonsepsian fenomena-fenomena alam dan prilaku kehidupan manusia yang diracik dengan suatu metode. Teknologi yang merupakan tahapan penerapan ilmu pengetahuan yang terus berkembang menuju kecanggihan. Sistem ekonomi (mata pencaharian) yang menjadi salah satu inspirasi manusia untuk berbudi daya atau berkarya guna mempertahankan dan mengembangkan hidupnya. Hidup manusia tidak dapat lepas dari sistem kemasyarakatan yang menaunginya karena pada dasarnya manusia sebagai mahluk sosial selain sebagai makhluk individu dan makhluk Tuhan. Manusia dalam menghasilkan karyanya atau mengungkapkan pengalamannya dengan kemasan yang  memadai tidak mesti melalui  akal murni semata, namun rasa memiliki kepekaan terhadap kenyataan yang tidak ditemukan akal, seperti dalam kesenian atau keindahan. Agama sebagai keyakinan hidup pemeluknya, keyakinan menyatakan diri dalam iman dan amal, menyempurnakan seluruh prilaku manusia, agama pun menghasilkan  nilai-nilai yang dapat dilihat dan dirasakan manusia sebagai mahluk Tuhan.</p>
<p>SISTEM NILAI BUDAYA</p>
<p>Sistem nilai budaya  berakar dan meresap dalam jiwa masyarakat, sehingga sulit diubah dalam waktu yang relatif cepat. Sistem nilai budaya meiliki fungsi sebagai pedoman dan parameter bagi perilaku manusia. Sistem budaya ini manyangkut masalah pokok kehidupan manusia. Menurut Kluckhon dalam Notowidagdo (1997: 41),  sistem budaya  secara  universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia yaitu:  (1) hakikat hidup manusia, (2) hakikat karya manusia, (3) hakikat waktu manusia, (4) hakikat alam manusia, (5) hakikat hubungan manusia.<br />
Hakikat hidup manusia  untuk suatu kebudayaan tidaklah sama, ada yang berusaha untuk menyisihkan hidup, memadamkan hidup, namun ada pula yang menganggap manusia harus mengisi hidup karena hidup itu sesuatu yang baik bukan suatu yang buruk. Dalam hakikat karya manusia juga ada yang menganggap karya itu bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan dan kehormatan manusia, karya merupakan gerak hidup untuk melanjutkan atau menambah karya yang telah ada. Bagi manusia hakikat waktu ada yang berpandangan mementingkan waktu lampau, waktu sekarang atau waktu yang akan datang. Untuk hakikat alam manusia ada yang beranggapan manusia harus memanfaatkan alam semaksimal mungkin, manusia harus harmonis dengan alam, dan manusia harus menyerah pada alam. Sedang hakikat hubungan ada yang berpandangan mementingkan hubungan manusia dengan manusia, dan ada yang mementingkan pada individualistis.</p>
<p>Hakikat nilai kebudayaan selain yang telah tersebut, ada satu hakikat lagi yang tidak dapat diabaikan yakni hakikat mati manusia. Ada yang berpandangan bahwa kematian adalah sebuah akhir kehidupan; dan ada yang berpandangan kematian hanyalah sebuah tahap kehidupan untuk menuju tahap kehidupan berikutnya. Hakikat kematian ini memberi pengaruh besar terhadap pola pikir, pola rasa, dan pola laku hidup manusia. Hidup dan mati  merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.</p>
<p>PERUBAHAN KEBUDAYAAN</p>
<p>Kebudayaan yang lahir dan hidup dalam masyarakat ini pada dasarnya selalu mengalami perubahan. Perubahan kebudayaan ini terjadi disebabkan perubahan berbagai macam hal. Notowidagdo (1997: 53) mengatakan, “Perubahan kebudayaan  terjadi disebabkan (1) berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, dan     (2) perubahan lingkungan alam dan pisik.tempat mereka hidup”. Kebudayaan akan selalu mengalami perubahan, dan perubahan itu disebabkan kehidupan masyarakat berubah, nilai kebudayaan berubah,   dan lingkungan alam dan fisik berubah. Selain itu  ruang dan  waktu akan mempengaruhi berubahnya kebudayaan, karena ruang dan waktu ikut serta menentukan jalannya roda kebudayaan. Sebagaimana dituturkan Gazalba (1973:60), berbeda ruang berbeda kebudyaannya. Berlainan waktu berlainan kebudayaannya. Waktu perubahan kebudayaan berjalan tidak selalu sama, perubahan kebudayaan dapat berjalan dalam waktu cepat, sangat lambat atau di antara keduanya tergantung oleh ruang, waktu dan tempo yang  berjalan. Jika perubahan kebudayaan berjalan sangat lambat atau berjalan di tempat maka terkesan/terlihat tidak ada perubahan. Namun perubahan kebudayaan akan cenderung seirama dengan hidup masyarakat sebagaimana dikatakan Bakker (1984:113), kebudayaan berubah seirama dengan perubahan  hidup masyarakat. Perubahan itu berasal dari pengalaman baru, pengetahuan baru, teknologi baru dan akibatnya dal;am penyesuaian cara hidup dan  kebiasaannya kepada situasi baru. Berubahnya sesuatu dalam kehidupan manusia  baik yang terkait dalam wujud pisik atau non pisik pada hakikatnya akan membawa atau menjadikan perubahan dalam kebudayaan. Sedangkan proses perubahan kebudayaan dapat terjadi  melalui imitasi, discovery, invensi dan defusi. Imitasi: peniruan kebudayaan primitif/sederhana atau kebudayaan yang maju oleh generasi muda terhadap generasi tua. Discovery: penemuan baru. yang mengubah persepsi hakikat sesuatu. Invensi: pembuatan bentuk baru melalui proses penciptaan  dan didasarkan pengkombinasian kebudayaan yang telah ada. Difusi: persebaran unsur-unsur kebudayaan dari suatu tempat ke tempat lain oleh kelompok manusia.</p>
<p>Proses perubahan kebudayaan tidaklah sesingkat membalikkan telapak tangan, tapi membutuhkan waktu yang relatif panjang karena memerlukan pemikiran-pemikiran yang baik untuk dapat melahirkan suatu kebudayaan (baru) yang baik dan memerlukan penyesuaian-penyesuaian yang arif bijaksana agar kebudayaan (baru) dapat diterima masayarakat banyak serta tidak menimbulkan benturan-benturan yang merisaukan dan menyakitkan, serta kebudayaan (baru) hasil perubahan tidak diasingkan. dan mengalami kesepian dalam kesendirian, karena perubahan kebudayaan pada hakikatnya pengayaan kebudayaan..</p>
<p>PENTINGNYA KEBUDAYAAN</p>
<p>Manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan ingin selalu dapat memenuhi keinginannya atau mewujudkan harapannya yang jauh hari telah dicanangkan, dan  tidak mengalami kegagalan, tidak ingin terkungkung dalam penderitaaan dan dililit berbagai permasalahan hidup, karena kegagalan dan penderitaan sesuatu yang mengecewakan, mengerikan, dan menjadi penghambat manusia dalam menggapai kesuksesan. Untuk itu manusia berjuang keras dengan berbagai aktifitas budinya untuk meraih harapannya dengan melahirkan sesuatu apa yang dinamakan kebudayaan. Karena pada hakikatnya kebudayaan yang merupakan hasil budi manusia merupakan sebuah piranti/alat yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, dan mengatasi masalah-masalah kehidupan. Notowidagdo (1997:27) mengatakan, “kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, pola tindakan dari hasil cipta, rasa dan karsa manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya”. Nasution (1995:62) mengatakan, bahwa kebudayaan dapat dipandang sebagai cara-cara mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Kebudayaan sebagai strategi untuk mengatasi masalah dalam kehidupan, dan menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, oleh karenanya kebudayaan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, kebudayaan merupakan sebuah alat/piranti untuk mencapai tujuan yang didambakan.</p>
<p>Melalui kebudayaan manusia mampu memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya dengan menggunakan berbagai strategi yang sesuai, serta melalui kebudayaan manusia dapat mencapai hari depan yang cerah. Tanpa kebudayaan manusia berada di persimpangan jalan, ada dalam kebingungan dan penderitaan dan atau hidup dalam kematian yang tak ubahnya petung yang tak pernah berkata dan tertawa. Dengan demikian manusia harus dapat menggunakan, membina  dan membawa kebudayaan dengan baik, jangan sampai manusia tergilas oleh roda kebudayaan yang akan menjadikan manusia sengsara dan lupa akan dirinya dan Tuhannya. Tetapi tidak menutup kemungkinan manusia akan tergilas roda kebudayaan yang terus berjalan jika kebudayaan dijadikan sebagai tujuan akhir kehidupan,  dan bahkan kebudayaan menjadi Tuhannya.</p>
<p>KEBUDAYAAN SEBAGAI RENCANA MASA DEPAN</p>
<p>Telah dipaparkan di depan bahwa kebudayaan merupakan piranti/media untuk mencapai tujuan yang didambakan. Kebudayaan dapat dipandang sebagai cara-cara untuk mengatasi masalah. Dan bila ditelusuri lebih dalam untuk mencapai tujuan bukan saja piranti yang dibutuhkan harus ada, namun agar piranti tersebut dapat digunakan efektif dan atau efisien dalam mencapai tujuan yang hakikatnya berada dalam lingkaran masa depan maka memerlukan sebuah rencana dan atau  strategi yang matang/baik, dengan kata lain rencana dan atau strategi yang baik akan membawa manusia pada pencapaian masa depan  atau hari esok yang cerah sebagai titik tujuan. Peursen (1978:216) mengatakan, bahwa kebudayaan merupakan strategi atau rencana yang dibuat oleh manusia dan diarahkan kepada hari depan. Dengan demikian kebudayaan bukan saja merupakan alat/piranti  untuk menggapai tujuan, hari depan yang cerah, tetapi sekaligus sebagai strategi dan atau rencana  masa depan, masa depan  yang panjang, masa depan yang diperebutkan tangan-tangan insan.</p>
<p>Mencapai hari/masa depan yang cerah menjadi impian setiap orang, untuk itulah memerlukan rencana yang baik dan alat yang baik pula. Kebudayaan sebagai rencana masa depan kehidupan manusia, yang mana manusia sendiri sebagai produsen dan sekaligus konsumen kebudayaan oleh karenanya manusia haruslah dapat melahirkan kebudayaan yang baik, kebudayaan yang memiliki nilai kemanusiaan dan nilai keilahian, kebudayaan yang membumi dan melangit.</p>
<p>Kebudayaan yang memiliki nilai kemanusiaan dan nilai keilahian atau kebudayaan yang membumi dan melangit  inilah yang dapat membuat manusia dalam suasana keaktifan, kedinamisan, keoptimisan, kearifan dan keselarasan/ keseimbangan serta kesadaran terhadap dirinya  baik sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan. Kebudayaan ini pula yang dapat melepaskan tali belenggu kebodohan dan pembodohan, kemiskinan dan pemiskinan (moral). Juga menjadi peluru yang dapat merobek tabir misteri kehidupan, dan peluru penembus dinding penyekat ruang dan waktu yang sempit dan menyempit yang terus membentengi kehidupan manusia. Dan pada akhirnya melalui kebudayaan yang didasari nilai kemanusiaan dan keilahian manusia mampu meraih hari depan yang cerah sebagai titik tujuan yang dicita-citakan.</p>
<p>KAMPUS PUSAT KEBUDAYAAN</p>
<p>Kampus dalam realitasnnya menjadi pusat aktifitas para anggota masyarakatnya yang menghasilkan berbagai aneka hasil budinya seperti: ide-ide/gagasan-gagasan, pola pikir, pola rasa, pola prilaku, norma-norma, adat kebiasaan dan nilai-nilai insani, serta  karya lain yang bisa dinikmati, yang mendewasakan dan memberdayakan anggota masyarakatnya untuk lebih berkualitas dan lebih mengerti tentang dunia dan kehidupan yang selalu menyertai. Kampus bila kita cermati lebih jauh sebenarnya bukan saja sebuah wahana dan sarana pewarisan ilmu pengetahuan dan aktifitas mendewasakan dan atau memberdayakan anggota masyarakatnya (baca: mahasiswa, dosen dan pengelola), tetapi lebih dari itu merupakan sebuah kolam yang menampung air budaya dari banyak pihak, penjuru daerah  melalui persebaran orang-orang yang masuk menjadi anggotanya, dan menjadi sumber air keilmuan yang dapat memancar dan mengairi sawah dan ladang di dalam dan di luar kampus, bahkan menjadi sumber kawah Candradimuka yang menggodok dan melahirkan manusia berkualitas dan berbudaya serta beradab dengan karakteristik tersendiri, yang pada gilirannya masyarakat kampus menjadi pembina dan pemasok kebudayaan pada masyarakat luas.</p>
<p>Kampus yang dihuni orang-orang pilihan bila dicermati  memiliki dua kebudayaan  yakni: kebudayaan kampus yang umum/universal dan kebudayaan kampus yang khusus/sempit. Adapun kebudayaan kampus yang universal yaitu: (1) budaya intelektualitas, maksudnya kampus selalu diwarnai kreatifitas dan aktifitas pemikiran logis/rasional dan kritis,  suasana dan sikap ilmiah atau aktifitas keilmuan,  (2) budaya moralitas, maksudnya kampus selalu diwarnai aktifitas pemikiran,  sikap dan prilaku yang  bermoral serta selalu menjunjung tinggi nilai-nilai moral/akhlak,   (3) budaya perbaikan kualitas, maksudnya kampus selalu diwarnai aktifitas menuju kemajuan dan menuju kualitas yang lebih baik, yang didasari dengan intelektual dan moralnya, (4) budaya penelitian dan pengembangan maksudnya kampus selalu diwarnai kegiatan penelitian, pengkajian dan percobaan yang selanjutnya dilakukan pengembangan baik untuk masyarakat kampus atau masyarakat luas. Sedang budaya kampus yang khusus: kebudayaan yang dilahirkan sesuai dengan visi, misi, dan karakteristik kampus yang diperjuangkan. Gazalba (1973: 60) mengatakan, bahwa ruang dan waktu menentukan kebudayaan. Berbeda ruang berbeda kebudyaannya. Berlainan waktu berlainan kebudayaannya. Dengan demikian  sebuah kampus yang memiliki visi, misi, dan karakteristik serta lingkungan yang  berbeda dengan kampus lain maka akan melahirkan budaya kampus yang berbeda,  karena perbedaan ruang akan melahirkan perbedaan budayanya dari kampus-kampus yang ada. Misal sebuah kampus yang memiliki visi, misi dan karakteristik serta lingkungan religius akan memiliki kebudayaan yang berbeda dengan kampus yang memiliki visi, misi dan karakteristik  iptek dan atau seni karena kampus yang satu dengan kampus lain telah memiliki niat//titik pijak dan tujuan yang berbeda. Oleh karenanya menjadi sebuah kewajaran dan pemandangan yang biasa jika sebuah kampus memiliki kebudayaan yang berbeda dengan kampus lain karena berbeda titik pijak dan tujuannya, namun tidak boleh dinafikan  adanya titik kesamaan budaya antara  kampus yang satu dengan kampus yang lain  dan titik  kesamaan itu terletak dalam kebudayaan kampus yang universal yakni budaya intelektualitas, budaya moralitas dan budaya perbaikan kualitas serta budaya peneltian dan pengembangan.</p>
<p>Kebudayaan kampus pada dasarnya merupakan bagian dari kebudayaan dunia yang terus berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan menjadi media yang menjadikan manusia mengerti dirinya dan dunianya, menjadikan insan yang berbudaya dan beradab, serta menjadi jembatan emas yang mengantarkan manusia meraih hari depan yang dicita-citakan yang didasari nilai kemanusiaan dan keilahian.</p>
<p>SIMPULAN</p>
<p>Kampus bukan saja sebuah wahana dan sarana pewarisan ilmu pengetahuan dan aktifitas mendewasakan dan atau memberdayakan anggota masyarakatnya. Kampus pada hakikatnya merupakan sebuah pusat kebudayaan di antara pusat kebudayaan yang ada di tengah masyarakat. Masyarakat melahirkan kompleksitas ide/gagasan dan aktivitas, serta nilai-nilai insani yang bersumber dari budinya, yang diramu dengan ilmu pengetahuan dan pengalamannya. Adapun kebudayaan kampus yang umum yaitu: (1) budaya intelektualitas, (2) budaya moralitas, (3) budaya perbaikan kualitas, dan (4) budaya penelitian dan pengembangan. Sedang  budaya kampus yang khusus lahir sesuai dengan visi, misi dan lingkungan kampus. Kebudayaan kampus merupakan bagian dari kebudayaan dunia yang akan membawa manusia menuju masa depan yang cerah, menjadikan manusia mengenal dirinya dan Tuhannya serta menjadikan manusia sebagai insan yang berbudaya dan beradab.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Bakker, JWM. 1994. Filsafat Kebudayaan.Yogyakarta: Kanisius<br />
Gazalba, Sidi. 1963. Pengantar Kebudayaan sebagai Ilmu. Jakarta: Pustaka Antara.<br />
Gazalba, Sidi. 1973. Sistematika Filsafat I. Jakarta: Bulan Bintang.<br />
Geertz, Clifford. 2000. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.<br />
Nasution, S. 1995. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.<br />
Notowidagdo, Rohiman. 1997. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al Qur’an dan Hadits.      Jakarta: RajaGrafindo Persada.<br />
Sulaiman, M. Munandar. 1998. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: Eresco.<br />
Van Peursen, C. A. 1978. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosichin.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosichin.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosichin.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosichin.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosichin.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosichin.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosichin.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosichin.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosichin.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosichin.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosichin.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosichin.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosichin.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosichin.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=96&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosichin.wordpress.com/2009/06/10/kampus-sebuah-pusat-kebudayaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc5b56b53846dd95cdb7bc1a779c0d7d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosichin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEPINTAS KILAS FILSAFAT ILMU</title>
		<link>http://rosichin.wordpress.com/2009/02/27/sepintas-kilas-filsafat-ilmu/</link>
		<comments>http://rosichin.wordpress.com/2009/02/27/sepintas-kilas-filsafat-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 08:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosichin mansur</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosichin.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Rosichin M. Manusia yang sepanjang hidupnya tidak lepas dari aktifitas berpikir. Berpikir tentang diri sendiri dan di luar diri sendiri, berpikir tentang alam fana dan alam baka, berfikir tentang kehidupan dan kematian, berpikir waktu lalu, waktu kini dan waktu datang, pendeknya berpikir segala yang ada, yang pada gilirannya akan melahirkan suatu ilmu. SEKILAS FILSAFAT Homo [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=73&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Rosichin M.</em></p>
<p><em>Manusia yang sepanjang hidupnya tidak lepas dari aktifitas berpikir. Berpikir tentang diri sendiri dan di luar diri sendiri, berpikir tentang alam fana dan alam baka, berfikir tentang kehidupan dan kematian, berpikir waktu lalu, waktu kini dan waktu datang, pendeknya berpikir segala yang ada, yang pada gilirannya akan melahirkan suatu ilmu. </em></p>
<p><span id="more-73"></span><br />
SEKILAS FILSAFAT</p>
<p>Homo sapiens (makhluk yang berpikir) sebuah predikat yang menempel di pundak manusia. Manusia yang sepanjang hidupnya tidak lepas dari aktifitas berpikir. Berpikir tentang diri sendiri dan di luar diri sendiri, berpikir tentang alam fana dan alam baka, berfikir tentang kehidupan dan kematian, berpikir waktu lalu, waktu kini dan waktu datang, pendeknya berpikir segala yang ada.<br />
Manusia yang berpikir tentang segala ada secara mendalam sampai ke akar-akarnya berarti manusia tersebut telah memasuki pemikiran filsafati atau dunia filsafat. Filsuf Yunani murid Socrates, Plato mengatakan : Filsafat tidak lain adalah pengetahuan tentang segala sesuatu (Suhadi, 1989 : 7). Sedang Poedjawijatna menulis : filsafat adalah ilmu tentang segala sesuatu yang menyelidiki keterangan atau sebab yang sedalam-dalamnya (Poedjawijatna, 1980 : 8). Manusia yang berpikir tentang hakekat atau inti sari, esensi atau substansi yanga ada, manusia itu telah keluar dari bingkai penjelajah ilmu (science) dan telah menginjakkan kakinya ke dunia filsafat yang cinta kebijaksanaan.<br />
Segala yanga ada dan mencari keterangan sedalam-dalamnya yang menjadi ruang lingkup penjelajah filsafat, bila dipikirkan lebih dalam “ yang ada” mengandung arti yang ada dalam pikiran, yang ada dalam kenyataan dan yang ada dalam kemungkinan. Sedang mencari keterangan sedalam-dalamnya mengandung makna ada aktifitas pikir yang totalitas, tajam mendasar dan kritis dalam menemukan kebenaran terdalam dari “yang ada”.<br />
Berpikir tajam dan berpikir kritis itulah sesuatu yang dapat diraih dalam mempelajari filsafat. Sunoto berpendapat : kegunaan filsafat melatih diri untuk berpikir kritis dan runtut menyusun hasil pikiran tersebut secara sistematik (Sunoto, 1985 : 11). Kiranya tidaklah sia-sia bagi orang mempelajari pikiran, berpikir kritis dan runtut; sekaligus menyingkirkan pemikiran dangkal dan acak.<br />
Bukan hanya sampai pada pemikiran tajam, kritis dan runtut yang dapat diraih atas berkecimpungnya di dunia filsafat, melainkan dapat lebih. Karl Jaspers mengungkapkan : filsafat itu memberi kepada manusia Weltanschauung (pemandangan dunia). Harold H. Titus mengatakan : filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak tergantung pada konsepsi yang pra ilmiah, yang usang, yang sempit dan yan dogmatis. Sementara H. De Vos berpendapat : filsafat akan memberikan dasar-dasar daripada pengetahuan yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia (Anshari, 1981 : 95,96).<br />
Bukan seperti menabur garam di tengah lautan melainkan bagai mentari menerangi bumi : filsafat memberi guba bagi manusia : memberi pandangan bagi manusia : memberi pandangan dunia, pandangan hidup, memperkuat iman keagamaan yang rasionalis serta makna.</p>
<p>PERCIKAN FILSAFAT ILMU</p>
<p>Ilmu (science) tak selamanya mampu memecahkan problema yang dihadapi, ilmu mengalami kemandegan atau kebuntuan. Dan filsafat ilmu menjadi pahlawan pemecah kebuntuan problema yang dihadapi ilmu. Oleh karena itu bila ilmu menghadapi diluar bingkai penjajahnya, seperti soal hakekat ilmu maka ilmu meyerahkan pada filsafat ilmu.<br />
Jujun S. Suriasumantri mengatakan : filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara specefik mangkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah) (Suriasumantri, 1990 ; 33). Dan Peter Caws berpendapat : Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Sedang May Brodbeck merumuskan filsafat ilmu sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan, dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu (Gie, 1987 : 10,21). Berdasar rumusan diatas dapat diartikan filsafat ilmu ialah bagian filsafat yang mengkaji hakekat ilmu, atau ilmu yang membahas landasan-landasan ilmu secara filsafati.<br />
Jelas kira-kira landasan-landasan atau hakekat ilmu bukanlah ladang kajian yang bingkai-bingkai bahasanya jauh pangalaman manusia, melainkan menjadi lingkup bahasa filsafat ilmu yang selalu mencoba meng”atas”I ilmu yang hasil rekayasa manusia. Dengan kata lain filsafat ilmu selalu membuka pintu dan menerima dengan senyum manis serta akan memecahkan problema-problema yang diserahkan ilmu, seperti soal hakekat ilmu.<br />
Hakekat ilmu atau landasan-landasan ilmu yang menjadi garapan filsafat ilmu, akan dapat dipahami dengan tidak membahas tiga aspek yang ada dalam ilmu/sains, seperti aspek ontologi (apa), epistemologi (bagaimana), dan aksiologi (untuk apa). Aspel ontologi mengenai apa yang dikaji ilmu atau tentang ada sebagai obyek sains, aspek epistemologi mengenai bagaimana proses mendapatkan ilmu, dan aspek aksiologi mengenai untuk apa ilmu itu digunakan. Namun masih terbuka lebar dan masih banyak kajian permasalahan yang berkait dan yang tidak dengan ketiga aspek tersebut dalam lingkup ilmu, yang akan memperjelas penemuan kebenaran terdalam dari ilmu yang selalu didamabakan manusia pencari ilmu.</p>
<p>BINGKAI-BINGKAI KAJIAN ILMU</p>
<p>Ilmu yang merupakan hasil usaha manusia, kini berkembang pesat dan menjadi salah satu senjata manusia guna memerangi/mengatasi permasalahan-permasalahan manusia yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan manusia penuh dengan kejadian dan lika-liku yang oleh paham fatalisme kejadian itu sebagai nasib yang telah ditentukan lebih dahulu, menjadi fenomena yang menarik untuk ditelaah lebih dalam; selain alam yang mengherankan.<br />
Langit yang tiada satupun pilar penyangga, disiang hari nampak matahari yang bercahaya menyinari bumi, kadang megapun menghias manis. Dimalam hari bulan dan bintang menghias langit dan menerangi bumi. Benda-benda langit itu rapi bergerak dijalannya, tak ada yang bertabrakkan. Dan bila kita melihat bumi, maka tampak gunung yang menjulang tinggi di tumbuhi pohon, dihiasi sungai dengan penuh bebatuan yang airnya bermuara di lautan. Laut yang penuh gelombang berarak dan badai, binatang laut, dan ikan-ikan yang dicari nelayan dengan kapalnya. Selanjutnya ikan-ikan itu diperjual belikan diantara manusia. Manusia yang memiliki akal, berpikir dan bertingkah laku. Manusia yang hidup dalam suatu dunia yang dipenuhi dengan barang-barang. Manusia yang bisa mencipta barang dan menghilangkannya. Manusia yang membutuhkan air, angin, dan panas. Dan manusia yang terdiri atas badan dan jiwa. Semua itu merupakan bahan kajian ilmu. Pendeknya alam dan manusia dengan segala unsurnya sepanjang pengalaman dan kemampuan indera manusia menjadi obyek kajian ilmu. Endang Saifuddin Anshari menulis : pada garis besarnya obyek ilmu pengetahuan ialah ilmu alam dan manusia. (Anshari, 1981 : 48).<br />
Bingkai penjelajahg ilmu menjadi jelas tiada lain alam dan manusia. Alam yang tertib, rapi dan seimbang. Alam yang penuh energi dan materi serta misteri. Alam yang terhampar luas yang menurut demokritos t (Anshari, 1981: 48).<br />
Bingkai penjelajahg ilmu menjadi jelas tiada lain alam dan manusia. Alam yang tertib, rapi dan seimbang. Alam yang penuh energi dan materi serta misteri. Alam yang terhampar luas yang menurut Demokritos tersusun dari atom-atom sangat menakjubkan manusia. Manusia yang memiliki cipta, rasa dan karsa. Sehingga manusia sebagai mahkluk yang mengaktualisasi diri mempunyai kebebasan berkehendak. Disinilah paham indeteminisme dijunjung tinggi. Sebaliknya paham determinisme mendukung tidak adanya kebebasan berkehendak bagi manusia. Dan paham probabilisme menjadi paham jalan tengah diantara paham determinisme dan indeterminisme.<br />
Alam dan manusia yang mengalami evolusi tidak lepas dari ruang dan waktu. Dengan kata lain alam dan manusia selalu terikat ruang dan waktu, ruang yang mewadahi dan ruang yang menyertai. Ruang dan waktu yang abstrak adanya, menurut newton ruang dan wkatu bersifat mutlak. Sedangkan menurut Einstein tidak ada ruang yang mutlak dan tidak ada waktu yang mutlak (Kattsoff, 1986 : 245, 253). Meski berbeda pandangan kedua tokoh diatas mengenai ruang dan waktu, namun ruang dan waktu merupakan kenyataan yang ada, ada diantara barang-barang yang ada; dan menjadi persemaian barang yang ada.<br />
Ruang dan waktu yang selalu ada diantara barang-barang yang ada, tidak berlaku untuk Tuhan (dalam arti Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu). Tuhan merupakan prima causa dari segala yang ada; Tuhan yang trasenden dan immanen.<br />
Persoalan Tuhan bukan lagi meteri kajian ilmu, karena sudah diluar batas penjelajah ilmu, seperti masalah sorga dan neraka, malaikat dan iblis ini bukan menjadi pembahasan ilmu melainkan pembahasan agama yang didasarkan wahyu, dan filsafatpun membahasnya berdasar akal pikir. Wahyu yang datang dari Tuhan kebenarannya tidak perlu diragukan, dan tidak harus diuji, dibuktikan melalui pengalaman dan eksperimen. Kebenaran wahyu berkait dengan keyakinan hati dan iman manusia kepada Tuhan. Dan kebenaran wahyu pun rasional atau logis, kalaupun ada yang tidak logis atau tidak bisa diterima akal manusia diantara isi wahyu disebabkan pemikiran akal budi manusia sajalah yang belum mampu dan mencapau titik jawaban/penemuan pemikiran atas isi wahyu yang tidak logis/tak rasional.<br />
Kebenaran wahyu berbeda dengan kebenaran ilmu, kebenaran ilmu harus diuji melalui pengalaman manusia. Dan manusia jugalah yang menemukan ilmu. “Ilmu adalah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hak ikwal yang diselidi sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu penginderaan manusia itu, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental. (Anshari, 1981 : 47, 46) Jadi pengalaman dan kemampuan pemikiran manusia menjadi faktor penentu batas pengkajian alam dan manusia yang merupakan obyek ilmu.</p>
<p>SUMBER ILMU</p>
<p>Sumber ilmu tidaklah berbeda dengan sumber pengetahuan, karena pada hakekatnya ilmu merupakan kumpulan pengetahuan.<br />
Rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Dan empirisme berpendapat, bahwa empiris atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan. Baik pengalaman yang batiniah maupun yang lahiriah (Hadiwijono, 1980 : 18). Rasio (akal) dan pengalaman menjadi sumber pengetahuan. Melalui rasio dan empiri dapat melahirkan dan mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan yang didapat secar rasional dan empiri merupakan pengetahuan produk dari sebuah rangkaian penalaran.<br />
Selain rasio pengalaman, intuisi dan wahyu juga menjadi sumber pengetahuan. Jujun. S. Suriasumantri mengatakan bahwa wahyu dan intuisi adalah sumber pengetahuan (Suriasumantri, 1990 ; 44). Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan Tuhan kepada manusia. Dan intuisi merupakan pengetahuan yang diadapatkan tanpa melalui penalaran tertentu. Bagi Maslow penalaran ini merupakan pengetahuan yang puncak, sedangkan bagi Nietzhe ntuisi merupakan intelegensi yang paling tinggi (Suriasumantri, 1990 : 53). Jadi melalui wahyu dan intuisi manusia dapat memperoleh pengetahuan yang didapat sebagai pengetahuan produk nonanalitik yang tak punya pola tertentu, tetapi diakui suatu hal yang benar.<br />
Kalau dianalisis lebih dalam lagi rasio, empiri, intuisi dan wahyu yang menjadi sumber pengetahuan itu merupakan suatu kenyataan yang ada. Dan Tuhan adalah prima causa segala yang ada. Maka Tuhanlah sumber pengetahuan, sumber ilmu.</p>
<p>METODE ILMU</p>
<p>Kebenaran, sesuatu yang menjadi tujuan ilmu. Untuk mencapai tujuannya tentulah memerlukan dan menempuh prosedur, cara atau jalan tertentu, yang dinamakan metode ilmu atau metode ilmiah.<br />
Pada pokoknya metode ilmiah ada dua macam, yaitu: 1. Metode ilmiah bersifat umum. Metode ini ada dua: metode analitiko – sintesa dan metode non &#8211; deduksi. 2. Metode penyelidikan ilmiah. Metode ini ada dua: metode siklus – empirik dan metode linier (Soemargono, 1983:10). Metode analitiko-sintesa maksudnya cara pengkajian sesuatu obyek (ilmiah) tertentu dengan menggunakan metode analisa dan metode sintesa secara silih berganti atau bersama-sama Sedangkan metode non-deduksi merupakan cara pengkajian sesuatu obyek (ilmiah) tertentu dengan menggunakan metode deduksi dan metode induksi secara silih berganti atau bersama-sama.<br />
Metode analisa ialah cara penanganan terhadap sesuatu obyek ilmiah tertentu dengan jalan memilah-milahkan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain untuk memperoleh kejelasan mengenai halnya. Metode sintesa ialah cara penanganan terhadap sesuatu obyek ilmiah tertentu dengan jalan menggabung-gabungkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lain, untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Sedang metode deduksi ialah cara penanganan sesuatu obyek ilmiah dengan jalan pertama-tama menetapkan sesuatu ketentuan umum dan kemudian berdasarkan atas ketentuan umum tadi menarik kesimpulan-kesimpulan khusus mengenai barang sesuatu atau sesuatu kasus tertentu. Dan metode induksi ialah cara penanganan terhadap sesuatu obyek ilmiah tertentu yang dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau kasus-kasus yang sejenis, kemuudian menarik sesuatu kesimpulan yang bersifat umum. Keempat metode bo1eh dikata selalu digunakan dalam setiap aktifitas ilmiah, baik diterapkan secara sendiri dan silih berganti atau bersama &#8211; sama, dengan mempertimbangkan bahan-bahan penelitian dalam penetapan metode. Metode analisa metode yang memilah-milah, dan metode sintesa metode yang menggabung-gabungkan dapat diterapkan pada bahan-bahan yang bersifat apriori dan yang aposteriori. Juga metode deduksi dan induksi dapat diterapkan pada bahan-bahan yang bersifat kealaman dan kejiwaan/kerohanian. Dengan perkataan lain metode analisa, sintesa, deduktif dan induktif yang merupakan metode ilmiah tak pernah berhenti dalam aktifitas menuju pencapaian pengetahuan ilmiah (ilmu).<br />
Metode siklus-empirik ialah cara penanganan dalam penyelidikan ilmiah terhadap obyek ilmiah yang bersifat empirik dan yang prosesnya mengambil bentuk lingkaran atau perulangan-perulangan. Dan metode linier ialah cara penanganan dalam penyelidikan ilmiah terhadap obyek ilmiah yang bersifat kejiwaan/kerohanian yang prosesnya mengambil bentuk garis lurus secara bertahap. Di antara metode siklus-empirik dan metode linier nampak ada perbedaan dalam penerapan, metode siklus-empirik penerapannya dilingkungan ilmu yang bersifat kealaman, sedang metode linier penerapannya dilingkungan ilmu yang bersifat kejiwaan/ kerohanian.</p>
<p>Penerapan metode ilmiah di atas tidaklah bersifat mutlak, banya untuk memudahkan dalam mengambil titik awal penelitian atau pengkajian, dengan bahan-bahan penelitian menjadi bahan pertimbangan dalam penerapan metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah itu sama bagi semua disiplin ilmu, baik dilingkungan ilmu alam atau dilingkungan ilmu sosial/ilmu kemanusiaan. Jujun S. Suriasumantri menulis: Metode ilmiah pada dasarnya adalah sama bagi semua disiplin keilmuan baik yang termasuk dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial. Bila terdapat perbedaan dalam kedua kelompok keilmuan ini maka perbedaan tersebut sekadar terletak pada aspek-aspek tekniknya dan bukan pada struktur berpikir atau aspek metodologisnya. &#8216;Teknis pengumpulan data mengenai gejala gunung berapi jelas akan berbeda dengan teknik pengumpulan data tentang sikap kaum remaja mengenai keluarga berencana. Demikian juga teknik pengamatan bintang-bintang di langit akan berbeda dengan teknik pengamatan anak taman kanak-kanak yang sedang belajar mengeja (Suriasumantri, 1990:132). Dengan demikian jelas bahwa tidak ada perbedaan untuk penerapan metode ilmiah dalam penelitian atau pengkajian ilmiah, baik dalam kelompok ilmu alam ataupun dalam kelompok ilmu sosial/ilmu kemanusiaan; hanya berbeda dalam penggunaan teknik-tekniknya yang dikaitkan dengan bahan atau obyek penelitian ilmiah yang menggunakan teknik.</p>
<p>Menurut The Liang Gie, teknik adalah sesuatu cara operasional yang seringkali bercorak rutin, mekanis atau spesialistis untuk memperoleh dan menangani data dalam penelitian. Sedang metode ilmiah adalah berbagai prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam pelaksanaan sesuatu penelitian ilmiah (Gie, 1987:58). Jadi dapat dimengerti bahwa teknik yang merupakan cara operasional dan spesialis menjadi bagian daripada metode ilmiah yang memiliki polapola dan langkah-langkah tertentu dalam rangka penemuan ilmu. Dengan kata lain teknik menjadi aspek yang cukup penting keberadaannya dalani metode ilmiah atau metode keilmuan.<br />
Langkah-langkah yang cukup umum dalam metode ilmiah, yaitu: penentuan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan verifikasi hasil (Gie, 1987:54). Langkah-langkah di atas merupakan langkah minimal yang harus ada, dan menjadi pola yang cukup umum dalam proses penemuan pengetahuan ilmiah. Dan langkah ini tidak menutup kemungkinan terhadap masuknya langkah tambahan dari yang telah ada.<br />
Ada langkah atau pola lain yang tidak banyak berbeda, langkah ini merupakan langkah-langkah dalam metode ilmiah yang berintikan proses logico-hypotheticoverifakasi, yaitu:<br />
1. Perumusan masalah yang merupakan pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batas-batas serta dapat diidentifikasi faktor-faktor terikat di dalamnya;<br />
2. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan;<br />
3. Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan;<br />
4. Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak;<br />
5. Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup yang mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis itu ditolak. Hipotesis, yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan yakni mempunyai kerangka penjelasan konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya. Pengertian kebenaran di sini harus ditafsirkan secara pragmatis artinya bahwa sampai saat ini belum terdapat fakta yang menyatakan sebaliknya (Suriasumantri, 1990:128).<br />
Kelima langkah di atas merupakan patokan utama, yang masih membuka pintu kemungkinan berkembangnya langkah atau pola variasi yang relevan yang menjadi pendukung dan penjelas. Maka boleh dikata belum ada kesamaan langkah/pola pasti pada metode ilmiah. Tata langkah atau pola dalam metode ilmiah meskipun “belum ada kepastian mengenai jumlah, bentuk dan urutan langkah” (Gie, 1987:54), namun pola itu merupakan ide, konsep dan ungkapan pikiran teratur serta sarana menuju penemuan pengetahuan ilmiah dan kebenaran (ilmiah).</p>
<p>Metode ilmiah beserta tekniknya yang relevan menjadi tuntutan dalam rangka pencapaian pengetahuan ilmiah, bila tanpa adanya metode ilmiah maka sulit pengetahuan ilmiah yang disebutnya ilmu akan ditemukan, karena metode ilmiah merupakan jalan yang harus dilalui dengan memperhatikan teknik-teknik yang relevan. Bila tanpa adanya relevansi tehnik dengan bidang kajian maka hasilnya akan berbeda, bahkan kesalahan yang ditemukan. Dengan kata lain bidang kajianlah yang yang membedakan penggunaan teknik-teknik yang ada dalam metode ilmiah. Penggunaan teknik pengumpulan data tentang kenakalan remaja atau orang tua dalam bidang seksual akan berbeda dengan teknik pengumpulan data tentang ragam batuan di lereng gunung. Sementara metode ilmiahnya tak ada perbedaan; dengan langkah-langkah pokoknya: perumusan masalah, penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan.</p>
<p>Langkah-langkah dalam metode ilmiah itu jangan ditafsirkan secara mati, tetapi suatu konsep dinamis yang menekankan logika berpikir dan alur-alur pemikiran benar, sehingga tumbuh kembangnya pola pemikiran kaku akan terkikis. Pola pemikiran dinamis dan optimis menjadi pupuk tumbuh suburnya pohon-pohon ilmu. Ilmu yang kini berjalan cepat karena partisipasinya metode ilmiah yang cukup besar, di samping sumbangsih aspek-aspek lain, seperti sosial (yang melakukan komunikasi ilmiah).<br />
Kendatipun metode ilmiah pantas mendapat gelar bintang pengembang ilmu, namun untuk tidak, menimbulkan kecongkakan metode ilmiah kiranya perlu ingat kembali perkataan Leonard Nash bahwa terdapat bahaya yang potensial mengintai di balik mitos yang bernama metode: yakni bahwa ilmuwan akan memperlakukannya secara terlalu bersungguh-sungguh! (Suriasumantri, 1990:133).</p>
<p>FUNGSI ILMU</p>
<p>Manusia yang pencari ilmu dan mendambakan penguasaan atas ilmu yang telah dicari, tentulah mereka itu memiliki asumsi bahwa ilmu itu berharga dan berfungsi/berguna bagi dirinya atau pun manusia lain dalam mengarungi hidup dan kehidupan.<br />
R.B.S. Fudyartanta menyebutkan ada empat macam fungsi ilmu pengetahuan, yaitu :<br />
1. Fungsi deskriptif : megambarkan, melukiskan dan memaparkan obyek atau masalah sehingga mudah dipelajari peneliti;<br />
2. Fungsi pengembangan: melanjutkan hasil penemuan yang lalu dan menemukan hasil ilmu pengetahuan yang baru;<br />
3. Fungsi prediksi: meramalkan kejadian, kejadian yang besar kemungkinan terjadi sehingga manusia dapat mengambil tindakan-tindakan yang perlu dalam usaha menghadapinya;<br />
4. Fungsi kontrol: berusaha mengendalikan peristiwa-peristiwaa yang tidak dikehendaki.<br />
Dan Endang Saifuddin Anshari menulis bahwa fungsi ilmu pengetahuan ialah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia di dalam pelbagai bidangnya (Anshari, 1981:57).<br />
Dr. Mahdi Ghulsyani mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan berguna dalam usaha menyingkap suatu kesatuan komprehensif di dalam hukum-hukum alam.<br />
Imam &#8216;Ali mengatakan : “Iman itu maju melalui ilmu” (Ghulsyani, 1986:60, 75).<br />
Ilmu (= ilmu pengetahuan) memberi sumbangsih kegunaan terhadap dunia ilmu sendiri, lingkungan alam dan kehidupan manusia serta rasa imaniah manusia dengan Tuhan. Di dunia ilmu, ilmu memberikan gambaran dan paparan dunia ilmu yang kaya obyek yang hendak memudahkan kajian pencari ilmu. Ilmu menjadi dasar acuan dalam rangka menumbuh kembangkan hasil ilmu yang lalu dan penemuan ilmu baru. Di lingkungan alam dan kehidupan manusia, ilmu berfungsi menjadi sarana peryikap rahasia-rahasia alam beserta hukum-hukumnya yang menakjubkan. Ilmu menjadi sarana pembeda mana yang benar dan yang tidak benar dengan jelas, sehinngga manusia mampu memahami dan menilai suatu kebenaran dan ketidakbenaran. Dengan ilmu manusia mampu mcmprediksi kejadian yang hendak terjadi dan sekaligus mengambil sikap dan jalan keluar terbaik dalam menghadapi kejadian itu; juga manusia akan mampu mengendalikan suatu kejadian yang tidak diinginkan dengan bekal ilmu. Di samping ilmu berguna menjadi alat pemenuhan kebutuhan hidup manusia di segala bidang yang menjadi kebutuhan manusia dalam hidup dan kehidupan.</p>
<p>Di dunia imaniah manusia dengan Tuhan, ilmu berguna memajukan, meningkatkan keyakinan, kepercayaan kepada Tuhan, dan menghindari lumpuh. Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta”. (Hashem, 1983:1) Jelas kiranya bahwa ilmu mempunyai peran penting dalam peningkatan imaniah manusia kepada Tuban. Di samping ilmu sarana pembebasan takhayul-takhayul, dan penghilang harum dupa dan isap Kemenyan yang merusak iman agama manusia. Tanpa ilmu, agama akan lumpuh, berjalan tertatih-tatih menuju kebenaran Tuhan.</p>
<p>NILAI KEBENARAN ILMU</p>
<p>Jean Paul Sartre mengemukakan : Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu hal yang sudah selesai terpikirkan, sesuatu yang tidak pernah mutlak, sebab selalu akan disisihkan oleh hasil-hasil penelitian dan percobaan-percobaan baru yang dilakukan dengan metode-metode baru atau karena adanya perlengkapan-perlengkapan yang lebih sempurna.<br />
Harsojo mengungkapkan bahwa kebenaran ilmiah itu tidaklah absolut dan final sifatnya. Kebenaran-kebenaran ilmiah selalu terbuka untuk peninjauan kembali berdasarkan atas adanya fakta-fakta baru yang sebelumnya diketahui. Abdullah bin Nuh berpendapat : “Sebetulnya tidak ada suatu kebenaran ilmiah dalam arti yang mutlak”. (Anshari, 1981 : 64,65). Jelaslah kiranya bahwa nilai kebenaran ilmu (pengetahuan ilmiah) tidaklah mutlak karena akan selalu disisihkan atau digugurkan oleh teori-teori produk penelitian dan penemuan baru yang menolaknya. Di samping itu sendiri tidak bermaksud mencapai kebenaran mutlak atas nilai kebenaran ilmu itu sendiri.</p>
<p>Kebenaran ilmu tidaklah final sifatnya, nilai kebenaran ilmu hanyalah relatif dalam arti suati hipotesis, suatu teori (ilmu) dapat diterima kebenaran-kebenarannya selama tidak didapatkan fakta atau ilmu (baru) yang menolak hipotesis atau ilmu (lama) yang telah diterima sebagai suatu kebenaran. Hipotesis-hipotesis atau ilmu yang sampai saat ini tidak ditolak kebenarannya shahih. Dan bila dikemudian hari ternyata tidak benar maka hipotesis atau ilmu (yang ditolak) tek perlu dibuang ke jurang terjal, tapi diberi saja salam : selamat tinggal kawan, aku hendak mencari Tuhan.</p>
<p>SIMPULAN</p>
<p>Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang mengkaji hakekat ilmu. Ilmu adalah usaha pemahaman manusia yang di susun dalam satu sistemnya mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihkwal yang diselidiki sejauh mana yang dapat dijangkau daya pikiran yang dibantu penginderaan manusia yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental sedang obyek ilmu adalah alam dan manusia (realitas).</p>
<p>Sumber ilmu ialah rasio (akal), empiris, intuisi dan wahyu. Adapun metode memperolehnya metode analitika-sintesa metode non-deduksi, metode siklus empirik, dan metode linier. Langkah-langkah yang cukup umum dalam metode ilmiah yaitu : Penentuan masalah, perumusan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan data, dan perifikasi hasil.<br />
Ilmu memiliki fungsi : fungsi deskriptif, prediksi, pengembangan, dan kontrol. Selain untuk memenuhi kebutuhan dan memudahkan hidup manusia di berbagai bidang.<br />
Nilai kebenaran ilmu bersifat relatif, tidak mutlak.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Anshari, Endang Saifuddin.  1981. Ilmu, Filsafat dan Agama. Surabaya : Bina Ilmu.<br />
Ghulsyani, Mahdi. 1986. Fiksafat Sains menurut Al Qur’an. Penerjemah Agus Effendi. Bandung Mizan.<br />
Gie, The Liang. 1987. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Yayasan S.I.T.<br />
Hadiwijoyono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta : Karnisius.<br />
Hashem, O. 1983. Keesan Tuhan Sebuah Pembahasan Ilmiah. Bandung : Pustaka.<br />
Kattsoff, Louis O. 1986. Pengantar Filsafat. Alih Bahasa Soejono Soemargono. Yogyakarta : Tiara Wacana.<br />
Poedjawaijatna, I.R. 1980. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Jakarta : PT. Pembangunan.<br />
Soemargono, Soejono. 1983. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Nur Cahaya.<br />
Suhadi. 1989. Risalah Dasar Filsafat Hukum. Solo : Tiga Serangkai.<br />
Sunoto. 1985. Mengenai Filsafat Pancasila 1. Yogyakarta : PT. Hanindita.<br />
Suriasumantri, Jujun S.. 1990. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Sinar Harapan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosichin.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosichin.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosichin.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosichin.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosichin.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosichin.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosichin.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosichin.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosichin.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosichin.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosichin.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosichin.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosichin.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosichin.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=73&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosichin.wordpress.com/2009/02/27/sepintas-kilas-filsafat-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc5b56b53846dd95cdb7bc1a779c0d7d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosichin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GEGURITAN TELOISM</title>
		<link>http://rosichin.wordpress.com/2009/01/21/geguritan-teloism/</link>
		<comments>http://rosichin.wordpress.com/2009/01/21/geguritan-teloism/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 04:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosichin mansur</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosichin.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Rosichin M. Geguritan Teloisme/Teloistik: geguritan ingkang rupa lan isine kayadene woh telo (buah ketela). Tetengeripun ingkang paling ketingal sangking woh telo meniko rupane sakarepe mboten aturan, unik, lan sawontene. Isine melu manut rupane. geguritan teloisme rupane kayadene … WAYAH SURUP Nalika wayah surup srengenge alon-alon ilang saking paningalan menungsa mlebet ing lemah jagat setan-setan sami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=48&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Rosichin M.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Geguritan Teloisme/Teloistik: geguritan ingkang rupa lan isine kayadene woh telo (buah ketela). Tetengeripun ingkang paling ketingal sangking woh telo meniko rupane sakarepe mboten aturan, unik, lan sawontene. Isine melu manut rupane.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">geguritan teloisme rupane kayadene …</span></span></p>
<p><span id="more-48"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">WAYAH SURUP</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Nalika wayah surup</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">srengenge alon-alon ilang saking paningalan menungsa</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">mlebet ing lemah jagat</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">setan-setan sami guyub</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">rame-rame metu omah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">mlampah ing margi-margi sadoyo papan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">utaminipun papanpapan sepen</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">asering dinggeni tiangtiang</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">ingkang remen nglampahi makarya awon</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">supados dinten mbenjang saged dados rencang ing neraka</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Nalika wayah surup</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">setan-setan sami guyub nggudo sinten kemawon</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">ingkang makarya kebacikan </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">ugi mboten ajrih mbeda</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">tiangtiang ingkang kandel imane mboten owah takwane</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Setan-setan saben-saben wayah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">tansah nggudo tiangtiang</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">supados saged dados rencang ing alam dunyo lan aherat</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Nalika wayah surup </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">tiang ingkang radi ayem tentrem </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">inggih meniko tiang ingkang mboten medal saking griyo</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> sami wirid eling dumateng Kang Moho Kuaos</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">29-10-02</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-241pt;text-align:center;margin:0 0 0 241pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">WONG</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.05pt;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sa’benere saben wong</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.05pt;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">kudune ngewongke wong</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.05pt;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">ora keno ora</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.05pt;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">ora keno towo</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Saiki akeh wong</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">ora ngewongke wong</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">urip sakarepe dewe</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">ora petung liyane</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.05pt;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sa’ apik-apike wong</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">wong kang ngewongke wong</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">sawise madep mantep</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">marang kang Agung </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sajake ora angel</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">wong ngewongke wong</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">yen ngerteni deweke wong</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">dudu kewan dudu setan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">28-01-03</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">OJO NGANTI LALI</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">ojo nganti lali marang awake dewek</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">mengko bisa sengsara uripe</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">sopo wonge sing wani sengsara uripe</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">bakal bisa mulya uripe</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">ora ono wong sing ora pengin mulya uripe</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">kejobo wong sing ora duwe urip</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">05-05-2009</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosichin.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosichin.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosichin.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosichin.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosichin.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosichin.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosichin.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosichin.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosichin.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosichin.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosichin.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosichin.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosichin.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosichin.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=48&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosichin.wordpress.com/2009/01/21/geguritan-teloism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc5b56b53846dd95cdb7bc1a779c0d7d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosichin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUISI TELOISM</title>
		<link>http://rosichin.wordpress.com/2009/01/18/puisi-teloism/</link>
		<comments>http://rosichin.wordpress.com/2009/01/18/puisi-teloism/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 02:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosichin mansur</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosichin.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Rosichin M. Puisi Teloisme/Teloistik: puisi yang bentuk dan isinya seperti buah telo (buah ketela). Karakteristik yang menonjol dari buah telo, bentuknya tidak beraturan, unik, alami. Isinya mengikuti bentuknya. Puisi teloisme tampak seperti … MAAF Maaf Gusti Pangeran aku belum bisa khusu&#8217; sembahyang isro mi&#8217;roj, 2009 SURAMADU Jembatan panjang membelah lautan Jalan panjang membedah kebudayaan Ikan-ikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=14&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Rosichin M.</span></span></em></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> Puisi Teloisme/Teloistik: puisi yang bentuk dan isinya seperti buah telo (buah ketela). Karakteristik yang menonjol dari buah telo, bentuknya tidak beraturan, unik, alami. Isinya mengikuti bentuknya.</span></span></em></em></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></div>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></div>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em><br />
Puisi teloisme tampak seperti …</em></span></span></div>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></div>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span><em><br />
</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p><span id="more-14"></span></p>
<p style="text-align:center;"><em>MAAF</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Maaf Gusti Pangeran</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>aku belum bisa khusu&#8217; sembahyang</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>isro mi&#8217;roj, 2009</em></p>
<p style="text-align:center;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>SURAMADU</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Jembatan panjang membelah lautan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Jalan panjang membedah kebudayaan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Ikan-ikan bertasbih di tengah lautan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Mengenang kembali kisah lama sang Utusan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Musa Alaihissalam membelah lautan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Kerlap kerlip lampu jembatan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Berdzikir mengubur ketahayulan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Suramadu jalan mengubah kehidupan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Berisi lautan makna dalam angan dan kenyataan.</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>11-06-2008</em></p>
<p style="text-align:center;"><em><br />
</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><em>PUTING PERAWAN</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0 0 0 72pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>amat indah romansa cinta romeo juliet</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>belum seberapa dengan indahnya</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>puting gadis perawan kala meneteskan air susu</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>yang manis menyejukkan</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>17-06-2006</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em><br />
</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p><em>DIANTARA JIWA</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Tanpa kata tanpa sapa</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Diantara jiwa-jiwa nestapa</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Menatap esok hari tanpa asa</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Bunga cempaka ta&#8217; kuasa menahan iba</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Jiwa-jiwa nestapa</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Tengadah ke langit biru</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Hingga wajahnya sayu</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Sama tiada beda</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Ta&#8217; ada kata ta&#8217; ada sapa</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Ayam cemani mengorek bumi</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Temui seuntai asa</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Tercipta penuh arti</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Tanpa kuasa asa ta&#8217; kan tercipta</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em><br />
</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 28.05pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p><em>TA&#8217; PERLU</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>ta&#8217; perlu dusta</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>tuk jadi kaya</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>ta&#8217; perlu noda</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>tuk gapai cinta</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>ta&#8217; perlu nila</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>tuk cari angka</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>peti rezki bergelantungan diatas kepala</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>bunga cinta bertaburan dibalik dada</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>pelangi angka berseliweran didepan mata</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>jemari, hati suci jadi piranti</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>tuk raih tanpa kena duri</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>pasti. </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>11 Nop. 08</em></span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&amp;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&amp;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;"><em>GILA</em></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>kutahu kini kau gila<br />
tak punya lagi apa dan siapa<br />
hanya cuma tertawa</em></span></span></p>
<p><em>angin tertawa duka<br />
tak mau menyapa<br />
orang gila</em></p>
<p><em>malang, 11 september 2007</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><em>WALI</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em><em>kutahu kau wali sastra<br />
sibuk dalam duniamu<br />
sampai tak tahu lagi<br />
apa yang ada di sisimu<br />
tangan sendiri pun tak tahu<br />
di mana berada<br />
semuanya maya</em></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>malang, 19 Mei 2007 </em></span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></div>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;"><em>TIADA BEDA</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Kini tiada beda</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>masjid, gereja, pura dan rumah ibadah lain<br />
</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>bukan hanya bicara langit biru</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>bicara bumi coklat jua</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>Mungkin Tuhan tersenyum</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>kala manusia bicara</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>tentang apa dan siapa</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>dikira Dia tidak ada </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><em>Jogjakarta</em></span><span style="font-family:Arial;"><em>, 10 Mei 2005</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><em>POLIGAMI</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>poligami adalah secolek madu<br />
rasanya kan menghilang<br />
kala lidah menjilatnya<br />
tinggal rasa hambar<br />
di jemari yang mencolek<br />
jika dijilatnya kembali<br />
</em></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>bunga mawar jatuh layu<br />
melihat lelaki yang haus<br />
segumpal daging mentah<br />
yang bisa melahirkan jiwa<br />
jiwa yang meneteskan air mata<br />
tanpa kata tanpa sapa<br />
gila</em></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>!</em></span></span>Malang, 12-01-2007</div>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></div>
<p><span style="font-family:Arial;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em>MENETES TANPA SWARA</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>indah nian perjalanan cinta rama dan sinta</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>indah jua perjalanan cinta ken arok dan ken dedes</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>tak kalah indahnya kala air susu</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>menetes dari puting gadis belia</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0 0 0 72pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>menetes tanpa suara tanpa kata</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0 0 0 72pt;"><span style="font-family:Arial;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>29-12-2008 / 1 muharam 1340</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><em>.</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em>MENGAWINI BUMI</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em>kaki kaki mengawini bumi</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em>sepanjang siang dan malam</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em>sampai tak kenal hari dan diri </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em>sendiri</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em>02-03-09</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em><br />
</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><em>TEKS</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><em>dalam teks, dalam kata, dalam makna</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><em>dan dalam konteksnya</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><em>Tuhan sembunyi di baliknya.</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>05-05-2009</em></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Arial;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosichin.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosichin.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosichin.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosichin.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosichin.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosichin.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosichin.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosichin.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosichin.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosichin.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosichin.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosichin.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosichin.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosichin.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=14&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosichin.wordpress.com/2009/01/18/puisi-teloism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc5b56b53846dd95cdb7bc1a779c0d7d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosichin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ETIKA SUBSISTEN ORANG-ORANG PINGGIRAN</title>
		<link>http://rosichin.wordpress.com/2009/01/16/etika-subsisten-orang-orang-pinggiran/</link>
		<comments>http://rosichin.wordpress.com/2009/01/16/etika-subsisten-orang-orang-pinggiran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 13:32:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosichin mansur</dc:creator>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosichin.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Rosichin M. Masyarakat desa tradisional mendapat desakan kuat modernisme dan industrialisasi yang terus merambah. Mereka sebagai orang-orang pinggiran tak mau terpuruk dan jatuh ke titik nol kehidupan. Sejalan dengan prinsip &#8220;dahulukan selamat&#8221; yang ditawarkan Roumasser, mereka mencipta ruang-ruang sendiri sebagai strategi melangsungkan hidupnya, sekaligus sebagai respon terhadapsistem yang ada yang kurang membela atau memberi angin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=10&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Rosichin M.</strong></em></p>
<p><em>Masyarakat desa tradisional mendapat desakan kuat modernisme dan industrialisasi yang terus merambah. Mereka sebagai orang-orang pinggiran tak mau terpuruk dan jatuh ke titik nol kehidupan. Sejalan dengan prinsip &#8220;dahulukan selamat&#8221; yang ditawarkan Roumasser, mereka mencipta ruang-ruang sendiri sebagai strategi melangsungkan hidupnya, sekaligus sebagai respon terhadapsistem yang ada yang kurang membela atau memberi angin segar kepada orang-orang pinggiran. Ruang profesi ojek menjadi ruang tumpuan yang diisi para suami, dan ruang lain, ruang sambilan yang menjadi penopangnya diisi para istri tapi tidak sampai menjadi ruang pelacur jalanan.</em></p>
<p><span id="more-10"></span></p>
<p>Tulisan hasil riset di atas terbit bersama tulisan hasil riset teman-teman, di antaranya tentang agama lokal, kearifan lokal, dan ritual. Untuk mengetahui lebih jauh bisa dibaca di buku yang disunting Direktur Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Irwan Abdullah et.al. Judul buku <em><strong>&#8220;Agama dan Kearifan Lokal dalam Tantangan Global&#8221;.</strong></em> Editor: Iwan Abdullah et.al. Penerbit: Sekolah Pascasarjana UGM dan Pustaka Pelajar Yogyakarta. 2008. p. 457.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosichin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosichin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosichin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosichin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosichin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosichin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosichin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosichin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosichin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosichin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosichin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosichin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosichin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosichin.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosichin.wordpress.com&amp;blog=6078739&amp;post=10&amp;subd=rosichin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosichin.wordpress.com/2009/01/16/etika-subsisten-orang-orang-pinggiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc5b56b53846dd95cdb7bc1a779c0d7d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosichin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
